INTRODUCTION
Di dua bab sebelumnya telah dijelaskan beberapa perbedaan dalam masyarakat dalam hal ekonomi, politik, hukum dan kebudayaan. Kita juga merencanakan dari beberapa masalah tersebut untuk berlatih bisnis inernasional. Bab ini terfkus pada masalah etika yang berkembang ketika perusahaan melakkan aktivitas bisnis di Negara – Negara yang berbeda. Banyak masalah etika yang berkembang karena perbedaan perkembangan di bidang kemajun ekonomi, politik, system hukum dan kebudayaan. Kata etika disini mengacu pada asas yang diterima baik benar atau salah yang menguasai tingkah laku seseorang, anggota dari pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan organisasi. Etika bisnis adalah asas yang diterima baik benar atau salah yang menguasai tingkah laku seorang pengusaha, dan etika strategi adalah strategi atau jalan dari suatu kegiatan yang tidak melaggar asas – asas yang berlaku.
Dalam masyarakat kita dan yang lain, banyak asas etika yang disusun menjadi sebuah hukum atau undang – undang. Seperti larangan untuk membunuh, mencuri, berzinah tetapi diantaranya banyak yang tidak sesuai, seperti asas yang seharusnya seorang pengarang tidak menjiplak pekerjaan orang lain. Selama tidak meniru tiap kata penjiplakan secara teknis tidak melanggar hak cipta tetapi hal tersebut sabgat tidak pantas dilakukan. Dalam sejarah ilmu pengetahuan, penuh dengan contoh dari para peneliti bahwa ide mereka telah dicuri oleh teman yang tidak teliti untuk keuntungan sendiri sebelum penemu ide mempunyai peluang untuk mematenkan dan menerbitkan ide mereka sendiri. Meskipun kelakuan ini tidak melanggar hokum tapi jelas sangat tidak etis.
Kasus pembuka diatas menggambarkan masalah ini. Nike tidak melanggar hukum ketika pemborong bawahan mereka di Asia Tenggara menyediakan pekerjaan dalam keadaan yang buruk, tapi banyak yang berpendapat bahwa perlakuan itu sangat todak pantas dilakukan. Nike tidak ragu untuk membuat keputusan kepada para pemborong agar menekan biaya dengan cara apapun dengan tujuan keuntungan jangka panjang perusahaan. Pada kenyataanya, masalah etika tidak masuk dalam hitungan pembuatan keputusan suatu perusahaan. Seperti para manajer pada kebanyakan perusahaan, apa yang menjadi alas an Nike adalah tanggung jawab pemborong bawahan yang mengikuti hokum local dan para manajer Nike dengan naïf mempercayai bahwa undang – undang tersebut menjamin keamanan para pekerja. Padahal, struktur hokum di banyak Negara berkembang tidak sempurna dan lemah dibandingkan dengan struktur hokum yang ada di Negara maju. Kadang hokum local berisikan tidak cukup panduan keamanan bagi para pekerja dan meskipun ada kadang hokum itu tidak dilakukan secara efektif. Mengacu pada hal ini, hal yang benar dan tepat yang dapat dilakukan Nike adalah ketika Nike memutuskan kepada pemborong di Negara berkembang untuk menentukan kode etik yang mengandung pedoman yang menghormati keadaan kerja yang harus ditemukan oleh pemborong. Nike melakukan hal ini, dan untuk mendukung hal in, Nike memperkerjakan beberapa pengaudit bebas untuk memastikan agar pemborong melaksanakan pedoman yang diberikan. Tetapi, sebelum Nike bereaksi, telah terjadi protes bertahun – tahun mengenai hal ini. Hal ini tentunya merusak reputasi Nike, dimana reputasi adalah asset tidak telihat yang paling penting bag perusahaan. Beberapa berpendapat, Nike harus memberitahukan bahwa mamasukkan masalah etika dalam pengambilan keputusan adalah penting. Secara mendasar, ini adalah hal yang benar untuk dilakukan!
Bab ini melihat bagaimana etika bisnis bisa digabungkan dengan pembuatan keputusan dalam bisnis internasional. Kita memulai dengan melihat Sumber Daya dan alam dari masalah etika dan dilemma dalam bisnis internasional. Kemudian kita melihat kembal alas an dar ietika yang buruk dalam pengambilan keputusan dalam bisnis internasional. Kemudian kita membicarakan prinsip yang berbeda yang dekat dengan etika bisnis. Kita menutup bab ini dengan melihat kembali proses berbeda yang dapat dilakukan manajer yang dapat dilakukan sebagai pertimbangan dalam memasukkan pembuatan keputusan dalam bisnis internasional suatu perusahaan.
Persoalan etika dalam bisnis internasional
Banyak persoalan etika dan dilemma dalam bisnis internasional yang berakar pada system politik, hukum, kemajuan ekonomi, dan budaya yang sangat berbeda antar Negara. Akibatnya, apa yang dianggap abik di satu Negara belum tentu dianggap baik di Negara lain. Karena manajer bekerja untuk institusi yang melebihi batas Negara dan budaya, maka manager dari perusahaan multinasional harus peka terhadap perbedaan dan harus memlih kegiatan etika dalam berbagai keadaan karena berpotensi menimbulakan masalah dalam etika. Dalam tatanan bisnis internasional, hal yang paling umum adalah kebiasaan pekerja, hak asasi manusia, peraturan lingkungan, korupsi, dan kewajiban moral dari perusahaan multinasional.
Kebiasaan para pekerja
Dalam kasus pembuka, masalah etika dihubungkan dengan kebiasaan pekerja di Negara lain. Ketika kondisi kerja di Negara tempat investasi lebih rendah dari kondisi kerja dari tempat asal perusahaan multinasional tersebut,standart apa yang harus dipilih? Apa dari Negara asal, Negara tempat investasi atau diantaranya? Ketika tiap Negara dianggap sama, maka berapakah perbedaan yang dapat diterima? Seperti, bekerja 12 jam sehari, gaji rendah dan gagal ,melindungi pekerja dari bahan berbahaya mungkin umum dilakukan di beberapa Negara berkembang, tap apakah hal ini berarti bak bagi perusahaan multinasional untuk menerima keadaan kerja tersebut atau memaafkan melalui pemborong?
Seperti kasus Nike, pendapat yang kuat dapat menjadi kebiasaan yang tidak tepat. Tapi tetap meninggalkan pertanyaan, apakah standart yang harus digunakan? Kita hars kembali dan menyadari kasus ini di bab selanjutnya. Untuk sekarang, mengumumkan standart minimal keamanan dan martabat pekerja dan memakai jasa audit adalah cara yang terbaik untuk mengatasi maslah ini. Seperti yang dilakukan perusahaan Levi Strauss yang pada tahun 1990an memutuskan kontrak dengan penyuplai terbesar, The Tan Family. Karena The Tan memperkerjakan perempuan cina dan Filipina 74 jam per minggu di halaman tertutup di Pulau Mariana.
Hak Asasi Manusia
Hak asasi dasar manusia di beberapa Negara masih belum dihargai. Seperti diantaranya, kebebasan berorganisasi, kebebasan berbicara, kebebasan berpolitik, dan sebagainya. Contoh yang apling nyata adalah yang terjadi di Afrika Selatan. Yaitu politik pembedaan warna kulit (apartheid) yang terjadi sampai tahun 1994. Apartheid adalah pemisahan kulit putih dengan kulit hitam yang menyediakan pekerjaan bagi kulit putih dan melarang kulit hitam bekerja pada usaha yang dikelola kulit putih. Meskipun menggunakan sistem seperti ini, banyak pengusaha barat beroperasi di Afrika Selatan. Tahun 1980, banyak yang menanyakan kebijakan ini. Mereka berpendapat, investasi mereka menikkan status ekonomi dan dapat menekan rezim yang berkuasa.
Beberapa perusahaan barat mengubah kebijakan mereka, diantaranya General Motors (GM). GM menggunakan prinsip Sullivan, yaitu seorang anggota jajaran kepengurusan GM. Sullivan berpendapat bahwa GM dapat beroperasi di Afrika Selatan dengan dua syarat, yaitu perusahaan tidak boleh melakukan hukum apartheid dan dengan kekuatan yang dimiliki, perusahaan harus berusaha melakukan usaha untuk penghapusan politik apartheid. Hukum Sullivan ini digunakan oleh semua perusahaan barat yang beroperasi di Afrika Selatan. Perlawanan ini diabaikan oleh pemerintah Afrika Selatan karena mereka tidak mau melawan para investor.
10 tahun kemudian, Sullivan mengatakan bahwa teorinya tidak cukup untuk menghapus politik apartheid. Dan beberapa perusahaan yang menjalankan hukum ini tidak bisa meneruskan usaha mereka di Afrika Selatan. Diantaranya Exxon, GM, Kodak, IBM dan Xerox. Pada saat bersamaan, dana pension mengatakan tidak mau bekerjasama dengan perusahaan yang menjalankan usaha di Afrika Selatan. Tekanan ini dan akibat sanksi ekonomi yang diberikan AS, berjasa atas penghapusan politik apartheid dan memperkenalkan Pemilihan Umum pada 1994. Hal ini dinilai meningkatkan hak asasi manusia di afrika selatan.
Meslkpun perubahan terjadi di Afrika Selatan, masih ada beberapa rezim yang masih berjalan di dunia ini. Apakah pantas melakukan usaha di Negara seperti ini? Banyak yang berkata, bahwa investasi bisa menekan kebijakan ekonomi, politik, dan social yang membuat rakyat melawan kepada rezim. Hal ini telah dijelaskan di bab 2 dimana kemajuan ekonomi bisa menekan untuk demokrasi. Secara umum, perusahaan multinasional yang berinvestasi di Negara yang kurang demokratis bisa meningkatkan HAM di Negara tersebut. Seperti di China, meskipun dikenal kurang demokrasi dan sering dipertanyakannya HAM disana, ternyata investasi bisa meningkatkan kondisi ekonomi dan meningkatkan standart kehidupan. Kemajuan ini secara tidak langsung menekan rakyat Cina agar lebih berani berpartisipasi dalam pemerintahan, politik dan kebebasan berbicara.
Tapi pendapat ini masih terbatas. Seperti kasus di Afrika Selatan, beberapa rezim tidak setuju bahwa investasi bisa mendukung perbaikan etika. Contoh lain adalah Myanmar (Burma). Dikuasai rezim militer lebih dari 40 tahun, Myanmar adalah salah satu pelaggar HAM paling berat. Tahun 1990an banyak perusahaan Barat dituduh melampaui batas etika yang sangat keras. Beberapa pengejek verpendapat bahwa Myanmar adaah Negara dengan ekonomi kecil, sehingga hukuman tidak mampu membuat begitu bereaksi, seperti apa yang ada di Cina.
Nigeria adalah Negara lain yang perlu dipertanyakan, ketka investasi membuat pelanggaran terhadap HAM. Yang paling terkenal adalah Royal Dutch Shell, perusahaan minyak terbesar di negeri itu yang sering diprotes. Tahun 1990an beberapa suku memprotes karena Royal Dutch Shell menyebabkan polusi dan gagal memberi kompensasi. Shell dilaporkan meminta bantuan Brigade Mobil Nigeria untuk mengakhiri protes para demonstran. Hasilnya menjadi berdarah. Di desa Umuechem, pasukan membunuh 80 demonstran dan menghancurkan 495 rumah. Tahun 1993, protes di bagian Ogoni karena masalah pipa milik Shell dan pasukan diminta lagi menghentikan protes. Hasilnya, 27 desa rusak, 80000 kehilangan tempat tinggal dan 2000 terbunuh.
Kritik bermunculan dan Shell disalahkan sebagai pemicu pembantaian. Shell tidak menggubris hal ini dan pasukan menjadikan alasan demonstrsi sebagai cara untuk membunuh kelompok yang selama beberapa lama berseberangan dengan pemerintah. Hal ini merubah kebijakan Shell dengan membuat mekanisme dari dalam untuk membuat acuan agar tidak bertentangan dengan HAM.
Polusi Lingkungan
Masalah etika muncul ketika peraturan lingkungan di negara investasi lebih rendah dibandingkan dari negara asal investor. Banyak negara maju yang mengatur tentang peraturan dasar tentang pembuangan gas emisi, pembuangan bahan berbahaya, penggunaan bahan beracun dan sebagainya. Peraturan ini kadang kurang diperhatikan di negara berkembang dan menurut laporan,hasil polusi industri tersebut bisa sampai ke tiap rumah. Contohnya adalah yang terjadi di Nigeria. Pada laporan tahun 1992 oleh pemerhati lingkungan isinya:
Industri minyak telah menyebabkan polusi udara baik siang maupun malam, menghasilkan gas beracun yang secara diam – diam dan secara sistematis mengganggu biota air dan membahayakan hidup dari tanaman, permainan dan manusia itu sendiri, kita telah polusi air secara meluas dan polusi tanah yang menyebabkan kematian terhadap hewan air, dan ikan dan di sisi lain lahan pertanian terkontaminasi dan tanah menjadi berbahaya untuk ditanami, meskipun mereka meneruskan menggunakannya.
Contoh diatas menunjukkan bahwa kontrol terhadap polusi di Nigeria kurang dibandingkan dengan di negara maju.
Haruskah perusahaan multinasional merasa tidak bersalah telah membuat polusi di negara lain? Apakah bermoral ketika suatu perusahaan memutuskan berprodusksi di negara berkembang karena kontrol terhadap polusi tidak diperlukan dan perusahaan bebas merusak lingkungan dan mungkin membahayakan penduduk lokal demi menekan biaya produksi dan mendapatkan keuntungan sebesar – besarnya? Apakah hal yang benar dan tindakan moral seperti apakah yang harus digunakan menghadapi keadaan seperti itu? Membuat polusi demi keuntungan ekonomi atau mengikuti peraturan yang melekat tentang standart pengaturan polusi?
Pertanyaan ini menjadi penting karena sebagian besar dari lingkungan adalah milik umum tanpa ada pemilik tetapi semua orang bisa merampasnya. Tidak ada seorangpun yang memiliki udara dan lautan tapi merusak keduanya tidak peduli dimana tempatnya merugikan semuanya. Lautan dan udara adalah barang yang semua orang membutuhkan tapi tidak ada seorangpun yang bertanggung jawab. Dalam beberapa kasus fenomena yang dikenal sebagai tragedi yang sering menjadi diterima dan biasa. Tragedi terjadi ketika sumberdaya digunakan oleh semua orang dan digunakan berlebihan sehingga mengalami kerusakan. Kata fenomena pertama digunakan oleh Garrett Hardin yang menjelaskan masalah pada abad 16 di Inggris. Daerah terbuka yang umum bagi semua digunakan sebagai padang untuk menggembala ternak. Orang miskin menggunakan padang rumput ini dan ternyata menambah penghasilan mereka. Sangat menguntungkan ketika terus menambah jumlah ternak, tetapi masalah sosial yang dihadapi jauh dari keuntungan yang didapatkan dari beternak. Hasilnya menghabiskan rumput, merusak padang rumput dan menghabiskan kandungan alam yang ada.
Dalam masyarakat modern, perusahaan bisa berperan membuat tragedi global dengan cara memindahkan usaha ke tempat yang bisa dengan bebas membuang limbah ke udara atau ke laut dan sungai dan dapat merusak hal yang berharga di alam ini. Mungkin hak ini tidak melanggar hukum, tapi apakah pantas dilakukan? Sekali lagi, diperlukan respon sosial terhadap etika yang berlaku.
Korupsi
Seperti yang tertulis pada bab 2, korupsi menjadi masalah utama di hampir semua sejarah manusia dan terus berlanjut sampai sekarang. Korupsi ada dan akan selalu ada dalam pemerintahan. Bisnis internasional mendapatkan keuntungan dengan membayar pemerintahan yang seperti ini. Contoh klasik adalah kejadian pada tahun 1970an. Carl Kotchian, presiden dari Lockheed membayar $12,5 juta kepada agen Jepang dan pemerintah untuk memuluskan pesanan besar untuk Lockheed Tristar dari Nippon Air. Ketika hal ini diketahui, pejabat dari AS menuduh Lockheed membuat laporan palsu dan menggelapkan pajak. Meskipun pembayaran ini di Jepang diterima dari bagian bisnis, hal ini menjadi skandal dan kasus yang besar. Pejabat pemerintah dianggap melanggar hukum, satu anggota bunuh diri, pemerintahan bermasalah dan masyarakat Jepang marah. Ternyata pembayaran seperti ini tidak diterima oleh masyarakat Jepang. Hal ini dianggap tidak berbeda dengan uang suap yang dibayarkan kepada pejabat untuk melancarkan pesanan raksasa seperti Boeing. Kotchian berlaku sangat tidak pantas dan berpendapat bahwa pembayaran tersebut sah. Dan ternyata hal itu sama sekali salah!
Kasus Lockheed mendorong Foreign Corrupt Practices Art pada tahun 1977 tang telah dijelaskan di bab 2. ini berisikan tentang memberikan uang suap terhadap pejabat negara lain untuk melancarkan bisnis. Beberapa perusahaan AS menganggap ini adalah kerugian dalam bersaing. Dan hal ini dianggap sebagai pembayaran perantara. Sebagaian mengetahui sebagai uang cepat dan hal ini dilakukan untukmengamankan kontrak yang belum aman atau membayar untuk mendapatkan perlakuan istimewa dari pemerintah setempat tetapi tidak mendapatkan hak tersebut di negara lain.
Tahun 1997, anggota dari Organization for Economic Cooperation and Development ( OECD ) membuat AS menggunakan Convention on Combating Bribery of Foreign Public Officials in International Business Transactions. Pertemuan yang diadakan pada 1999 menyuruh anggota agar memasukkan penyuapan sebagai tindakan kriminal. Pertemuan ini juga memperantarai pembayaran antara perusahaan dan pemerintahan secara rutin. Agar menjadi efektif, hukum ini harus diadopsi ke hukum lokal di setiap negara dan sampai sekarang sedang diusahakan.
Ketika menyalurkan pembayaran, masalah etika masih menjadi hal yang gelap. Di banyak negara, pembayaran terhadap pejabat pemerintah sudah menjadi bagian hidup sehari – hari. Baberapa berpendapat tidak berinvestasi karena tidak mau membayar suap mengacuhkan bahwa investasi bisa meningkatkan standart ekonomi dengan menambah pendapatan dan menambah lapangan kerja. Dari hal tersebut, memberi suap meskipun salah mungkin adalah hal yang harus dibayar untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Beberapa langkah ekonomi ini dinilai dapat menembus regulasi tidak praktis pada negara berkembang sehingga dapat membantu korupsi untuk tumbuh! Teori ekonomi ini membuat beberapa negara merubah batas mekanisme pasar, korupsi dalam pasar gelap, penyelundupan dan pembayaran rahasia pada para birokrat untuk mempercepat usaha sehingga menambah kesejahteraan. Pendapat seperti ini digunakan untuk membujuk kongres AS untuk menerima pembayaran dari Foreign Corrupt Prctices Act.
Sebaliknya, pakar ekonomi lain mengatakan bahwa korupsi mengurangi pendapatan dari investasi bisnis dan membuat pertumbuahn ekonomi rendah. Di negara dimana korupsi menjadi hal biasa, birokrat yang tidak produktif yang menginginkan pembayaran lain untuk memberi izin mengalihkan keuntungan bisnis. Pengurangan keuntungan ini memperlambat tingkat pertumbuhan ekonomi. Penelitian terhadap lebih dari 70 negara menunjukkan bahwa korupsi mempunyai dampak negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di suatu negara.
Debat dan rumitnya masakah ini tetap berlangsung dan sekali lagi kita dapat memutuskan memberi suap adalah hal yang tidak pantas dilakukan. Benar, bahwa korupsi adalah tidak baik dan menggangu perekonomian suatu negara tapi pada kasus tertentu dibutuhkan pembayaran terhadap pemerintah agar menghapuskan halangan untuk menciptakan lapangan kerja baru. Bagaimanapun, suap membuat korusi semakin buruk dan buruk. Korupsi kembali pada diri masing – masing dan memulai untik tidak korupsi adalah hal yang tidak mustahil meskipun sulit. Pendapat ini memperkuat masalah etika agar jangan mendekati korupsi apapun keuntungan yang didapat dari korupsi.
Banyak perusahaan multinasional yang setuju dengan kalimat ini, seperti contohnya perusahaan minyak BP yang tidak memberi toleransi sedikitpun terhadap pelaku korupsi.
Kewajiban moral
Perusahaan multinasional mempunyai kekuatan untuk mengatur sumber daya dan kemampuan mereka untuk memindahkan produksi dari satu negara ke negara lain. Kekuasaan tersebut tidak hanya dibatasi oleh hukum dan peraturan tapi juga oleh kedisiplinan dari pasar dan proses yang bersaing juga penting. Beberapa berkata bahwa kekuasaan yang berakar pada tanggung jawab sosial bisa memberikan suatu komunitas hasil yang baik dan kemajuan. Konsep awal dari tanggung jawab sosial adalah sebuah ide yang dimiliki pengusaha yang harus mempertimbangkan konsekuensi sosial ketika membuat keputusan bisnis dan harus membuat anggaran untuk menentukan agar tercipta ekonomi yang baik dan konsekuensi sosial yang baik. Tanggung jawab sosial mudah dilakukan karena suatu cara yang baik untuk emlakukan sebuah bisnis. Beberapa berpendapat bahwa bisnis, umumnya bisnis besar harus menyadari kewajiban kebangsawanan mereka dan harus memberi imbal balik pada masyarakat yang membuat mereka menjadi sukses. Kewajiban kebangsawanan berasal dari bahasa perancis yang artinya kehormatan dan murah hati yang dimiliki oleh seorang bangsawan. Dalam dunia bisnis, menjadi murah hati adalah sebuah tangung jawab menjadi usahawan yang sukses. Hal ini telah lama disadari oleh pengusaha dan hal ini dapat menjadikan menaikkan kesejahteraan dari komunitas dimana mereka menjalankan usaha.
Bagaimanapun juga, masih ada beberapa perusahaan yang menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Cerita sejarah yang paling terkenal adalah the British East India Company. Didiriakn pada tahun 1600, the East India Company menjadi kekuatan yang dominan di India pada abad ke 19. besarnya kekuasaan dapat dilihat dari mereka mempunyai 40 kapal perang, memiliki pasukan tentara terbesar di dunia dan secara de facto menguasai 240 juta penduduk dan memiliki uskup tersendiri untuk menunjukkan dominasi mereka dalam dunia kegamaan.
Kekuasaan adlah hal yang normal. Tergantung kekuatan tersebut digunakan untuk apa. Bisa digunakan untuk hal yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan yang pantas dilakukan atau bisa digunakan untuk mengerjai yang bertingkah tidak pantas. Seperti dalam kasus News Corporation yang merupakan salah satu kerajaan media terbesar di dunia yang terdapat dalam Mamajemen Focus. Kekuasaan yang mereka peroleh, mereka dapat dengan cara membangun persepsi publik dengan cara memilih berita – berita yang mereka tayangkan. Pendiri News Corporation dan CEO Rupert Murdoch telah lama menyadari bahwa China akan menjadi salah satu pasar yang menjajikan dalam pasar media dan tanpa izin mereka memperluas jaringan News Corporation di China yang menggunakan satelit Star TV. Beberapa yang tidak setuju mengatakan bahwa Murdoch menggunakan cara yang tidak pantas untuk menyelesaikan tujuan ini.
Beberapa perusahaan multinasional telah menyadari kewajiban moral ini yaitu menggunakan kekuasaan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. BP, salah satu perusahaan minyak terbesar dunia, telah membuat keputusan untuk melakukan investasi sosial di negara mereka melakukan usaha. Di Algeria, BP melaksanakan proyek gas di tengah gurun Salah.ketika perusahaan mengetahui bahwa dai Salah kekurangan air, perusahaan membangun 2 pipa air untuk menyediakan minum dan menyediakan air agar dapat dibawa pulang oleh penduduk Salah. Tidak adal alasan ekonomi untuk melakukan hal ini, tapi perusahaan percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab moral untuk membangun masyarakat. Meskipun hal ini kecil bagi BP, tapi merupakan hal yang penting bagi penduduk lokal.
Dilemma Etika
Kewajiban etika dari perusahaan multinasional terhadap kondisi tenaga kerja, HAM, korupsi, pencemaran lingkungan, dan penggunaan energi tidak terlalu jelas. Disini kemungkinannya adalah tidak adanya kompromi atau pembicaraan lebih lanjut tentang pemahaman terhadap etika tersebut. Dari pandangan bisnis internasional, terdapat perdebatan apakah etika tergantung pada satu pandangan budaya. Di USA, eksekusi hukuman dapat diterima, tapi pada budaya lain ini tidak ditrima-eksekusi hukuman mati dipandang sebagai suatu hinaan terhadap harga diri manusia dan hukuman mati tidak dibenarkan. Banyak orang Amerika memandang bahwa cara berpikir seperti itu aneh, tapi orang-orang Eropa memandang orang Amerika kejam. Terhadap orientasi bisnis misalnya, praktek ”gift giving” antara pihak-pihak terhadap negosiasi bisnis. Ketika praktek ini betul-betul dipertimbangkan sebagai tindakan yang benar dan pantas di budaya Asia, beberapa orang barat memandang praktek ini sebagai bentuk suap, dan oleh karena itu dianggap tidak beretika, terutama apabila pemberian tersebut merupakan sesuatu yang penting.
Manager harus dihadapkan pada kenyataan etika dilema. Contohnya, bayangkan apabila eksekutif Amerika berkunjung dan melihat cabang perusahaannya yang bertempat di negara miskin mengupah gadis berusia 12 tahun untuk bekerja di perusahaannya. Hal ini cukup mengejutkan melihat bahwa cabang perusahaannya menggunakan tenaga kerja anak-anak telah melanggar kode etika yang dimiliki oleh perusahaan tersebut, orang amerika tersebut menginstruksikan kepada manager local untuk mengganti anak-anak dengan orang dewasa. Manager local mematuhi perintah tersebut. Gadis yatim piatu tersebut yang bekerja untk mencari sesuap nasi untuk dia dan adiknyayang baru berumur 6 tahun, sudah tidak mendapat pekerjan lain, da dia putus asa sampai pada akhirnya dia bekerja di bidang prostitusi. Dua tahun kemudian dia meninggal karena penyakit AIDS. Akhirnya adiknya menjadi pengemis. Si adik bertemu dengan orang Amerika tersebut ketika ia mengemis di luar Mc. Donald’s. Sebenarnya keadaan ini merupakan tanggung jawabnya yang dia lupakan., anak laki-laki itu mengemis pada orang Amerika tersebut. Dan orang Amerika itu mempercepat langkahnya dan berjalan lebih cepat dan masuk ke Mc. Donald’s dimana dia memesan empat buah chesseburger, kentang goreng, milkshake. Satu tahun kemudian anak laki-laki itu terserang TBC dan akhirnya meninggal.
Setelah berkunjung orang Amerika tersebut sedikit memahami keadaan gadis itu,. Haruskah dia tetap menwarkan penggantian tersebut? mungkin tidak! Seharusnya ini lebih baik, oleh karena, dia memberikan status quo dan mengajak gadis itu kembali bekerja lagi? Tentu saja tidak, karena hal tersebut seharusnya melanggar dan terlarang dengan beberapa alasan melawan kode etika pada perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja anak-anak. Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Apa kewajiban dari eksekutif terhadap dilemma ini?
Pertanyaan tersebut tidak mudah untuk dijawab. Hal tersebut merupakan kemurnian dari etika dilemmas-merupakan situasi yang tidak ada alternatifnya seperti penerimaan terhadap etika sendiri. Pada kasus ini, tenaga kerja anak-anak tidak dapat diterima, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa gadis itu adalah pekerja, dan tidak dapat dipungkiri juga bahwa diahanya mencari sumber pendapatan. Apa yang diinginkan eksekutif Amerika, apa yang diinginkan manager, adalah arah moral, atau mungkin pemecahan masalah etika, yang dapat menjadi panduan bagi manager untuk mencari solusi etika dilemma. Nanti pada chapter ini kita akan menjelaskan garis besar apa yang dimaksud arah moral, atau pemecahan masalah etika, yang keduanya serupa. Untuk saat ini, sudah cukup dimengerti bahwa etika dilemma tetap terjadi karena tetap menjadi hal yang rumit di dunia, sulit untuk digambarkan, dan menyebabkan konsekwensi pertama, kedua, dan ketiga sulit untuk diukur. Melakukan hal yang benar, atau mengetahui hal yang mungkin benar, seringkali sulit untuk dilakukan.
Akar dari tindakan yang tidak beretika
Banyak manger berlaku seperti tidak beretika di bidang bisnis internasional. Kelompok investor Amerika mulai tertarik untuk memulihkan SS United States, yang yang dulunya adalah kapal mewah. Langkah pertama untuk memulihkannya adalah penarikan asbestos kapal. Asbestos adalah material racun yang diproduksi dari abu murni yang pabila dihirup dapat menyebabkan efek yang berakibat kerusakan paru-paru, kanker, dan kematian. Atas dasar itu, pemerintah di negara-negara tersebut menekan standar pengembangan perubahan asbestos. Beberapa perusahaan U.S, dengan standar yabg ditetapkan di Amerika, mengupah pekerjanya lebih dari $100 milion. Perusahaan di Ukraina menawarkan untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan upah $2 milion, jadi kapal-kapal tersebut ditarik ke pelabuhan Ukraina di Sevastopol. Dengan persetujuan upah $2 milion, ini menunjukkan bahwa perusahaan Ukraina tidak dapat mengadopsi standar seperti di Amerika. Sebagai konsekwensinya, pekerjanya memiliki resiko yang signifikan dalam menghasilkan asbestos-penyebar penyakit. Apabila pada kasus ini, keinginan untuk menghemat biaya dapat diartika oleh investor Amerika sebagai tindakan yang tidak beretika, dengan sepengetahuan mereka mncari keuntungan bagi perusahaan dengan tidak melindungi pekerjanya terhadap resiko kesehatan.
Kenapa manager melakukan tindakan yang tidak beretika? Tidak ada jawawan yang simpel untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena penyebab yang rumit, tapi sedikit pernyataan dapat dibuat (lihat gambar 4.1). pertama, etika bisnis tidak dapat dipisahkan dari etika personal, yang secara umum dapat diterima panduannya tentang prinsip salah dan benar bagi individu. Sebagai individu, kita secara tipikal tahu bahwa berbohong, dan mencuri adalah salah-hal ini tidak beretika-dan tahu tindakan yang benar adalh yang jujur dan terhormat, dan tetap teguh pada apa yang kita percaya untuk menjadi baik dan benar. Hal ini pada umumnya benar di mata masyarakat. Kode etika seseorang yang berdampingan dengan kepribadian kita berasal dari beberapa sumber, yang terdiri dari keluarga kita, sekolah kita, kepercayaan kita, dan media. Kode etika personal kita mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap tindakan kita sebagai pelaku bisnis. Seorang individu yang punya kepekaan kuat terhadap etika adalah orang yang jarang sekali bertindak tidak beretika pada bidang bisnis. Ini merupakan langkah pertama untuk membuktikan bahwa kepekaan yang tinggi terhadap etika bisnis bagi masyarakat menegaskan kekuatan dari personal ethics.
Manager suatu perusahaan yang bekerja ke luar negeri di perusahaan multinasional (manager ekspatriat) mungkin memiliki pengalaman luar biasa tentang tekanan terhadap pelanggaran personal ethics. Mereka keluar dari kebiasaan sosial dan budaya yang mendukungknya, yang secara psikologi dan geografi jauh dari perusahaan induk. Mereka mungkin merasakan perbedaan budaya di setiap tempat yang berbeda nilainya pada norma etika yang dianggap penting di perusahaan induk, dan mereka mungkin mengalah dengan pekerja lokal yang memiliki standar etika yang keras. Perusahaan induk mungkin mendesak manager ekspatriat untuk mencapai cita-cita yang kurang relistis yang hanya dapat dicapai dengan mengambil jalan tengah atau berpura-pura tidak beretika. Contohnya, untuk memenuhi mandat penting tentang pencapaian tujuan, manager ekspatriat mungkin memberi suap untuk memenangkan kontrak atau mungkin melakukan pengamatan kondisi dan kontrol lingkungan yang minimal dapat diterima. Manager lokal mungkin menganjurkan ekspatriat untuk mengadaptasi tindakannya. Oleh karena jarak geografis, perusahaan induk mungkin tidak dapat untuk mengamati bagaimana manager ekspatriat memenuhi tujuannya, atau mungkin memilih untuk tidak mengamati bagaimana mereka melakukannya, dengan mengijinkan tindakan untuk berjalan baik dan tetap dilakukan.
Juga, banyak penelitian tentang tindakan yang tidak beretika pada bidang bisnis telah menyimpulkan bahwa pelaku bisnis kadangkala tidak menyadari tindakan mereka yang tidak beretika, utamanya karena kesalahan pengucapan. Apakah ini suatu keputusan atau tindakan etika? Malah, mereka mereka menggunakan perhitungan bisnis untuk membuat keputusan bisnis, untuk mendapatkan keputusan tersebut mungkin juga membutuhkan ukuran etika. Kesalahan pada prosesnya bisa terjadi apabila tidak menggabungkan pertimbangan etika untuk membuat keputusan bisnis. Hal ini dapat ditunjukkan pada kasus Nike ketika manager memutuskan membuat subkontrak (lihat kasus pembukaan). Keputusan tersebut mungkin saja dipilah karena pertimbangan dasar pada bisnis variamel seperti biaya, pengiriman, dan kualitas produk, dan manager kunci salah mengucapakan, bagaimana subkontraktor memperlakukan tenaga kerjanya? Apabila mereka mempertanyakan pertanyaan tersebut, mereka kemungkinan beralasan bahwa itu adalah urusan subkontraktor, bukan mereka. (contoh lainnya pada pengambilan keputusan bisnis yang mungkin tidak beretika, lihalah Management Focus yang menuliskan keputusan Pfizer’s untuk mencoba eksperimen obatnya kepada anak-anak yang menderita meningitis di Nigeria.
Sayangnya suasana di beberapa tidak mendorong seseorang untuk berpikir sampai konsekwensi etika terhadap keputusan bisnis. Ini menunjukkan pada kita 3 penyebab tindakan yang tidak beretika pada bisnis-budaya organisasi yang mengabaikan etika bisnis, mengurangi keputusan pada kegiatan ekonomi yang bersih. Istilah budaya organisai berhubungan dengan nilai dan norma yang merupakan bagian diantara pekerja pada organisasi. Kamu akan kembali memgingat dari chapter 3bahwa nilai adalah ide abstrak apa yang dipercaya suatu kelompok untuk menjadi lebih baik, benar, dan sangat diperlukan, sedangkan norma adalah kebiasaan sosial dan petunjuk yang menentukan tindakan yang tepat pada situasi penting. Hanya sebagai masyarakat yang berbudaya, yang dapat melakukan aktivitas bisnis. Secara bersamaan, nilai dan norma membentuk budaya pada organisasi bisnis, dan budaya tersebut memiliki pengaruh penting pada etika untuk mengambil keputusan bisnis.
Penulis Robert Bryce telah menjelaskan tentang keadaan budaya orgaisasi saat ini-kebangkrutan yang dialami perusahaan energi multinasional Enron terjadi akibat ketamakan dan penipuan. Menurut Bryce, hal tersebut dibuat oleh top manager yang mengambil keputusan sendiri untuk memperkaya dirinya sendiri dan keluarganya. Bryce menunjukkan bagaiman ex-CEO Kenneth Lay membuat keyakinan keuntungan keluarganya kebanyakan dari Enron. Banyak perusahaan bisnis travel Enron dijalankan oleh travel agency yang dimiliki adik Lay. Ketika internal auditor merkomendasikan bahwa perusahaan itu dapat melakukan hal yang lebih baik apabila menggunakan travel agency lain, dia segera mengundurkan diri dari perusahaannya. Pada tahun 1997, Enron memperoleh sebuah perusahaan yang dijalankan oleh anak dari Kenneth Lay, Mark Lay, yang mecoba mengembangkan usahanya pada bisnis perdagangan bubur kayu dan kertas. Saat itu, Mark Lay dan perusahaan lainnya yang dia kontrol menjadi target investigasi kriminal penipuan, dan penggelapan. Sebagai bagian ddari keputusannya, Enron mengangkat Mark Lay sebagai eksekutif dengan kontrak 3 tahun dengan jaminan $1 milin yang dibayar setiap eriode, plus pilihan untuk menjual 20.000 lembar saham Enron. Bryce juga mendetailkan anak laki-lakinya yang sudah dewasa menggunakan jet Enron untuk mengirimkan bed ukuran besar ke prancis. Deengan Kenneth Lay sebagai contohnya, ini mungkin bukan hal mengejutkan lagi bahwa keegoisan suatu saat akan mendatangkan kehancuran pada Enron. Catatan paling penting adalah contoh pada Kepala Keuangan Andrew Fastrow yang membuat ”off balance sheet” yang bekerja sama bukan hanya menyembunyikan kondisi financial perusahaan Enron dari investor , tapi juga membayar membayar miliar dollar ke Fastrow. (fastrow kemudian terbukti melakukan tindakan kriminal penipuan dan dihukum penjara.)
Penyebab keempat dari tindakan yang beretika sudah ditunjukkan pada-ini ditekankan oleh induk perusahaan untuk melaksanakan memainkan cara yang kuang relistis yang dapat dicapai hanya dengan mengambil jalan tengah atau bertindak seerti tidak beretika. Lagi, Bryce membicarakan bagaimana hal ini kemungkinan dapat terjadi di Enron. Penyukse Lay sebagai CEO, Jeff Skilling, mengambil sistem evaluasi performa di tempat yang memasangkan lebih dari 15% dari underperformer setiap 6 bulan. Ini membuat tekanan-alat budaya pada performa jarak dekat, dan respon beberapa eksekutif dan pedagang energi yang menekan dengan memalsukan nilai dari perdagangan, contohnya-0untuk membuat hal ini terlihat membuat performa yang lebih baik dari yang sebenarnya.
Penjelasan dari kegagalan Enron adalah bahwa budaya organisasi dapat mengesahkan tindakan yang dianggap tidak beretika, pentingnya ketika hal ini digabungkan dengan fokus dari menentukan tujuan dengan tidak beretika, seperti memperbesar jangka pendek dari ekonomi, tidak peduli berapa biayanya. Pada keadaan seperti itu, disana terdapat kemungkinan yang lebih besar dari biasanyabahwa manager akan melanggar etika personalnya sendiri dan menggunakan tindakan yang tidak beretika. Dengan hal yang sama, budaya organisasi dapat melakukan hal yang sebaliknya dari tindakan yang beretika. Pada Hewlett-Packard, misalnya, Bill Hewlett dan David Packard, pendiri perusahaan, memperbanyak jumlah dari nila yan diketehui sebagai The HP Way. Nilai ini, yang membentuk jalan bisnis adalah memimpin keduanya dan dengan badan hukum, memiliki komponen etika yang penting. Antara hal yang lainnya, mereka menekankan kebutuhan untuk kepercayaan diri dan berkenaan dengan seseorang, membuka komunikasi, dan terfokus pada pekerja individu.
Enron dan Hewlett-Packard contohnya menunjukkan dasar dari penyebab kelima dari kegiatan yang tidak beretika-kepemimpinan. Pemimpin membantu mengembangkan budaya dari organisasi, dan mereka menjadi contoh bagi pengikut lainnya. Pekerja lain pada bidang bisnis seringkali menggunakan petunjuk dari pemimpin mereka, dan apabila pemimpin tersebut tidak memiliki tindakan pada hal etika, mereka mungkin juga tidak. Ini bukan tentang hal yang dikatakan oleh pemimpinnya, tapi apa yang mereka lakukan. Enron contohnya, memiliki kode etika bahwa Kennet Lay seringkali menyerah pada dirinya sendiri, tapi tindakan Lay sendiri adalah untuk memperbanyak jumlah keluarganya di perusahaanya daripada hal lainnya.
Pendekatan Filosofi pada Etika
Kita akan melihat beberapa perbedaan pendekatan pada etika bisnis disini, awalnya dengan beberapa yang sangat penting dijelaskan adalah sebagai straw men, yang baik keduanya mengingkari nilai dari etika bisnis atau mengaplikasi konsep yang sangat tidak memuaskan. Setelah didiskusikan, dan menolak, straw men,kami kemudian menuliskan pendekatan yang menarik bagi filosofis dan dari dasar model tindakan beretika di bidang bisnis
Straw Men
Straw men di bidang etika bisnis, diangkat oleh pembelajaran etika bisnis terutama untuk menunjukkan bahwa mereka memajukan pedoman yang pantas untuk mengambil keputusan di perusahaan multinasional. Empat pendekatan tentang etika bisnis biasanya dibicarakan pada literatur. Pendekatan ini dapat digolongkan sebagai Friedman’s doctrine, cultural relativism, the righteous moralist, dan the naive moralist. Semua pendekatan ini memiliki beberapa nilai sifat, tapi semua kurang memuaskan untuk penyelesaian yang penting. Meskipun begitu, suatu saat perusahaan akan menggunakan pendekatan ini.
The Friedman’s Doctrine penghargaan nobel-pemenang di bidang ekonomi Milton Friedman menulis sebuah artikel pada tahun 1970 yang ada sejak munculnya straw men klasik yang hanya membuat outline kemudian merobohkannya. Posisi dasar Friedman adalah hanya sebagai tanggung jawab sosial terhadap bisnis untuk meningkatkan keuntungan selama menjadi perusahaan yang berbadan hukum. Secara eksplisit dia membatalkan idenya ketika bisnis seharusnya menjalankan kegiatan sosial diluar mandat dari hukum dan diperlukan untuk efisiensi bisnis. Contohnya, argumennya mengharapkan perubahan kondisi pekerjaan diluar tingkat yang dibutuhkan oleh hukum dan tentu saja untuk memperbesar produktivitas pekerja akan mengurangi keuntungan dan oleh karena itu tidak cocok. Kepercayaannya adalah bahwa perusahaan harus memperbesar pendapatan bagi pemilik perusahaan yaitu pemegang saham. Apabila pemegang saham akhirnya mengharapkan untuk menggunakan keuntungan tersebut untuk investasi sosial, hal itulah yang benar menurut Friedman, tapi manager dari perusahaan tidak harus menggunakannya.
Walaupun Fridman berbicara tentang tanggung jawab sosial, daripada etika bisnis, sangat banyak pembelajaran etika bisnis menyamakan tanggung jawab sosial dengan tindakan yang beretika, dan hal ini dipercayai Friedman juga melawan etika bisnis. Suatu saat, asumsi bahwa Friedman berpendapat melawan etika tida sepenuhnya benar, dan Friedman mengeluarkan statemen,
There is one and only one social responbility of business-to use its resources and engange inactivities designed to increase its profit so long as it stays within the rules of the game, whih is to say that it enganges in open and free competition without deception or fraud.
Dengan kata lain, statemen dari Friedman bahwa bisnis seharusnya bertindak dengan kelakuan yang beretika dan tidak melakukan penipuan dan kecurangan.
Namun, argumen Friedman mengganggu pemeriksaan. Hal ini utamanya benar pada dunia bisnis internasional dimana ”peraturan permainan” tidak baik-ditentukan atau berbeda pada dasarnya dari negara ke negara. Dipertimbangkan lagi pada kasus lapangan pekerjaan yang mempekerjakan orang-orang dengan gaji rendah. Lapangan kerja bagi anak-anak mungkin tidak akan dilawan oleh hukum di negara berkembang, dan memperbesar produktivitas mungkin tidak mengharuskan untuk perusahaan memberhentikan penggunaaan tenaga kerja anak-anak di negara tersebut, tapi ini tetap saja tidak bermoral menggunakan tenaga kerja anak-anak karena raktek ini menyebabkan konflik dengan perluasan pandangan tentang apa hal yang benar dan pantas untuk dilakukan. Sama juga , disana mungkin saja tidak ada peraturan yang mengatur tentang cara mengatasi polusi di negara berkembang dan menghabiskan uang untuk mengatasi polusi mungkin dapat mengurangi tingkat keuntungan bagi perusahaan, tapi umumnya dugaan moral bisa mengungkapkan bahwa ini tetap saja tidak beretika membuang limbah beracun ke sungai atau mengotori udara dengan gas-gas beracun. Di samping pada konsekwensi dalam negeri sperti polusi, yang memiliki efek kesehatan yang serius yang dapat mengurangi populasi, disana juga terdapat konsekwensi global sebagai dampak polutan, keduanya sangat penting bagi kita semua-atmosfer dan lautan.
Cultural Relativism straw man lain sering diangkat melalui pembelajaran bisnis etika adalah cultural relativism, ini adalah kepercayaan bahwa etika tidak ada apa-apanya dibandingkan refleksi budaya-semua etika ditentukan oleh budaya-dan menurut kepercayaan ini, perusahaan seharunya mengmbil etika dari budaya pada operasinya. Pendekatan ini seringkali disingkat oleh ungkapan ketika kita di Roma berlakulah sebagai orang Roma. Seperti pendekatan Friedman, cultural relativism tidak hanya berdiri secara tertutup. Ekstrimya, cultural relativism mengharap bahwa apabila budaya mendukung perbudakan, ini OK untuk menggunakan budak di suatu negara. Jelasnya tidak. Cultural relativism secara implisit membatalkan ide tersebut bahwa dugaan universal bahwa moral lebih penting berbeda dengan budaya, tapi, bila kita akan berpendapat di capter lain, beberapa dugaan universal dari moral ditemukan berlawanan dengan budaya.
Saat membebaskan cultural relativism di da;am menjalankannya, beberapa penganut etika berpendapat bahwa disitu terdapat nilai sisa pada pendekatan ini. Sperti yang dicatat pada chapter 3, nilai sosial dan norma melakukan perubahan dari budaya ke budaya, perbedaan adat, jadi hal ini mungkin saja suatu bisnis di suatu negara dianggap beretika, namun di negara lain tidak.
Suatu saat, tidak semua penganut etika atau perusahaan setuju dengan kenyataan yang ada. Seperti yang kita catat sebelumnya, perusahaan minyak BP secara eksplisit mengatakan tidak akan menggunakan fasilitas embayaran, tidak peduli seberapa kuat norma yang ada. Pada 2002, BP menentukan tidak ada toleransi pada kebijakan fasilitas pembayaran, utamanya pada dasar bahwa pembayaran tersebut ada korupsi, dan hal ini tidak dapat dibenarkan karena korupsi adalah tindak kejahatan baik pemberi suap dan yang disuap, dan bentuk sistem kejahatannya. Seperti yang ditulis di website BP, sebagai hasil dari kebijakan zero-tolerance:
Some oil product sales in Vietnam involved inappropriate commission payment to the managers of costumers in return for placing order with BP. These were stopped during 2002 with result that BP failed ti win certain tenders with potential profit to calling $300k. in addition, two sales managers resigned over the issue. The business, however, has recovered using more traditional sales methods and has exceeded its target at year end
BP IN India has been working in an environment where facilitation payment are commonplace. The business unit took measures not only to eliminate direct facilitation payment but also extended the policy application to agents, consultants, sales distributors, and supplier. Workshops covering suppliers, distributors, and agents were held and key third parties provided signed statements confirming their compliance with our ethics policy. Contracts with three distributors and one freight agent were terminated for unethical behaviour. The main lesson learn was that perseverance is eventually rewarded despite delays. A plant as connected to the national grid, an office co-location project was approved, and a major income tax refund was received-all without making a facilitation payments that would ave been required in the past.
Pengalaman BP memperi kesan pada perusahaan untuk tidak seharusnya menggunakan cultural relativism sebagai pendapat untuk membnarkan tindakan yang secara jelas menyalahi etika, kecuali apabila tindakan tersebut legal dan secara rutin diterima di Negara dimana perusahaan melakukan kegiatan bisnis.
The Righteous Moralist A righteous moralist mengatakan bahwa standar perusahaan pusat multinasional lebih baik mengikuti etika di Negara lain bila ia mendirikan perusahaannya disana. Pendekatan ini secara tipikal bekerjasama dengan manager dari Negara berkembang. Sepintas pendekatan ini beralasan, namun pendekatan ini dapat membuat masalah. Menurut contoh ini: manager bank Amerika dikrim ke Italia dan terjejut saat mempelajari bahwa departemen akuntansi lokal terlalu memuji pelaporan keuntungan untuk pajak. Manager meminta dengann tegas membuat laporan pendapat secara akurat, itu gaya Amerika. Ketika dia mengatakan melalui departemen pajak ke perusahaan pembayar pajak, dia mengatakan perusahaan diberikan 3 waktu sebanyak yang harus dibayarkan, menurut asumsi standar departemen bahwa perusahaan melaporkan pendapatannya dengan dua-tiga. Walaupundia memprotes, beban baru tetap berlaku. Pada ksus ini, the righteous moralist dapat ada di penyebab masalah dari norma budaya di Negara dimana dia melakukan bisnis. Bagaimana seharusnya dia merespon? The righteous moralist bisa berpendapat untuk posisi yang terpelihara, saat banyak pandangan pragmatis seperti pada kasusnya, hal yang benar untuk dilakukan mengikuti norma budaya yang besar, sejak disana terdapat hukuman yang besar pada yang tidak mematuhinya.
Kritik utama dari pendekatan righteous moralist adalah pendukungnya terlalu jauh. Saat disana beberapa universal prinsip moral yang seharusnya dilanggar, ini tidak selalu mengikuti pendekatan yang digunakan harus diambil oleh standar perusahaan pusat. Contohnya hukum U.S menetapkan pedoman yang keras dengan menetapkan gaji minimun dan kondisi kerja. Apa ini berarti etika ini dapat digunakan di negara lain, membayar seseorang dengan sama sebanyak dia dibayar di U.S, dengan kesamaan manfaat dan kondisi kerja? Mungkin tidak, karena melakukan hal yang sama mungkin menghilangkan alasan untuk investasi di negara tersebut dan oleh karena itu meniadakan manfaat lokal dan menuju investasi multinasional. Jelasnya, banyak nunsa pendekatan dibutuhkan.
The Naive Immoralist A naive immoralist menyatakan bahwa apabila multinasional manager melihat bahwa perusahaan dari ngara lain tidak mengikuti norma etika dari negara tuan rumah, dan manager seharusnya juga. Contoh klasik untuk menggambarkan pendekatan bisa diketahui masalah penguasa morfin. Satu perbedaan dari masalah ini, Manager Amerika di Colombia secara rutin membayar penguasa morfin ini untuk menjamin tanamannya tidak akan di bom dan pekerjanya tidak akan diculik. Manager berpendapat bahwa pembayaran tersebut secara etika adalah perlindungan karena setiap orang melakukannya.
Bebannya berlipat ganda. Pertama, untuk mempermudah mengatakan bahwa suatu tindakan berpedoman etika apabila setiap orang melakukannya hal ini tidek efisien. Apabila perusahaan di suatu negara biasa mempekerjakan anak 12 tahun dengan 10 jam kerja, apakah ini juga untuk melindungi? Tentu saja tidak, dan perusahaan memiliki pilihan yang jelas. Ini tidak harus dipakai untuk praktek lokal, dan hal ini dapat diputuskan untuk tidak berinvestasi di negara yang prakteknya salah. Kedua, multinasional harus mempersiapkan bahwa dapat merubah praktek di sebuah negara. Ini dapat digunakan untuk tujuan moral yang positif. Inilah apa yang dilakukan BP dikatakan bahwa praktek yang berlaku dari penggunaan fasilitas pembayaran di negara seperti India secara etika salah, dan ini berkewajiban perusahaan untuk menggunakan kekuatannya untuk mencoba merubah standar. Saat beberapa pendapat bahwa pendekatan ini berbau impeialisme moral dan kekurangan sensitifitas budaya., apabila ini konsisten dengan luas diterima standar moral di komunitas global, ini mungkin pedoman yang beretika.
Untuk kembali ke masalah penguasa mofin, pendapat tersebut dapat digunakan bahwa hal ini adalah pelindungan etika untuk melakukan pembayaran tersebut, bukan karena setiap orang lain melakukan juga tapi karena tidak melakukan juga bisa menyebabkan kerugian yang besar ( penguasa morfinis mungkin meminta retribusi dan mengancam untuk membunuh dan menculik). Solusi lain pada maslah tersebut adalah dengan menolak untuk berinvstasi pada negara yang peraturan hukumnya sangat lemah saat penguasa morfin meminta perlindungan uang. Solusi ini, suatu saat, juga tidak sempurna, untuk kemungkinan berarti penolakan hukum masyarakat yang tunggal di negara tersebut memanfaatkan kerjasama dengan pemegang saham lokaldari multinasional. Jelasnya, masalah penguasa morfin merupakan satu dari beberapa kerasnya etika dilemma dimana disana tidaka ada solusi yang tepat, dan manager menginginkan arah moral untuk membantu menemukan solusi yang dapat diterima oleh dilemma.
Utilitarian and Kantian Ethics
Kebanyakan filsuf moral melihat nilai dalam pendekatan utilitarian and Kantian untuk etika bisnis. Penedekatan ini telah berkembang pada abad 18 dan 19, kemudian digantikan dengan penekatan yang lebih modern.
Pendekatan utilitarian dalam etika bisnis dikemukaan oleh tokoh filsafat seperti David Hume(1771-1776), Jeremy Bentham (1784-1832) dan John Stuart Mill(1806-1873). Pendekatan utilitarian menyatakan bahwa moral etika bernilai aksi dan praktis yang ditentukan oleh konsekuensinya. Aksi diputuskan untuk dapat memberikan kemungkinan keseimbangan yang terbaik, mulai dari konsekuensi yang baik hingga konsekuensi yang buruk Utilitarian diharapkan untuk dapat memaksimalkan laba dan meminimalis kerugian. Utilitarian mengakui bahwa aksi memiliki beberapa konsekuensi, beberapa memiliki perasaan yang baik dan yag lain memiliki perasaan yang buruk. Sebagai filosopi untuk etika bisnis, hal itu difokuskan pada perhatian untuk kebutuhan keuntungan sosial dan biaya untuk perilaku bisnis. Keputusan yang terbaik dari perspektif itilitarian adalah bahwa menghasilkan kebaikkan yang besar untuk banyak orang.
Beberapa pengusaha telah mengadopsi cara yang spesifik seperti analisis manfaat -biaya dan taksiran risiko yang merupakan dasar bagi perusahaan dalam filosopi utilitarian. Manager sering menimbang manfaat dan biaya dalam kegiatan sebelum memutuskan apakah diteruskan apa tidak. Perusahaan minyak melakukan pengeboran di cagar alam marga satwa, seharusnya menimbang keuntungan ekonomi dari peningkatan produksi minyak dan mencipkan pekerjaan melawan biaya penurunan lingkungan pada kerapuhan ekosistem. Perusahaan agriculture-biotechnology seperti Mosanto harus memutuskan apakah dalam keuntungan hasil modifikasi genetic yang memproduksi pestisida alami tidak memiliki risiko. Keuntungan yang merupakan peningkatan hasilpertanian dan mengurangi kebutuhan untuk pupuk kimia. Risikonya adalah bahwa jika serangga pemangsa hama milik perusahaan Mosanto melawan pestisida alami maka serangga tersebut akan mati terkena zat dalam pestisida alami, sehingga tanaman akan mudah diserang hama yang lebih besar.
Dari perntaan tersebut, utilitarian filosopi mempunyai beberapa pendekatan yang serius dalam etika bisnis. Masalah pertama adalah keuntungan, biaya, dan risiko dalam kegiatan bisnis. Dalam kasus perusahaan minyak yang mengebor di Alaska, bagaimana ukuran kerusakan potensial dalam lingkungan ekosistem.? Dalam contoh Mosanto, bagaimana dapat suatu risiko hasil mesin genetik akan mengakibatkan hama super berevolusi yang melawan pestisida alami? Pada umumnya, filosopi utiliatarian mengakui ukuran dari biaya, keuntungan, dan risiko yang sering tidak ada dalam batas ilmupengetahuan.
Masalah kedua adalah filosopi menghilangkan perhatian pada keadilan. Dalam kegiatan memproduksi barang yang banyak untuk memenuhi kebutuhan jumlah penduduk yang banyak, mungkin akibatnya adanaya ketidakadilan untuk mereka yang minoritas. Perilaku yang tidak pantas adalah adanya ketidak adilan. Sebagai contoh, perkiraan bahwa untuk meningkatkan biaya asuransi pemeliharan kesehatan, pemerintah memutuskan untuk menyaring orang dari virus HIV dan mengingkari jaminan asuransi bagi mereka yang positif HIV. Dengan mengurangi biaya kesehatan, seperti kegiatan untuk memproduksi keuntungan yang signifikan untuk jumlah penduduk yang banyak, tetapi ini justru tidak adil karena adanya diskriminasi untuk melawan kaum minoritas.
Kantian etika didasari oleh filosopi dari Imanuel Kant (1724-1804). Kantian etika menerangkan bahwa seseorang harus diperlakukan dengan baik dan tidak boleh dibeda-bedakan dengan yang lain. Manusia bukan alat seperti mesin. Manusia mempunyai derajat dan butuh untuk diperhatikan. Pekerja yang bekerja di sweatshops (suatu tempat dimana pekerja bekerja dengan upah yang rendah), membuat mereka bekerja berat dalam waktu yang lama dengan upah yang rendah dalam kondisi kemiskinan, menurut filosopi Kantian hal ini merupakan suatu bentuk pelanggaran etika, karena manusia dijadikan seperti roda penggerak mesin dan tidak ada kesadaran moral bahwa mereka mempunyai martabat/harga diri. Meskipun demikian, filosopi etika Kant’s masih belum lengkap, sebagai contoh dalam sistemnya tidak ada tempat mengenai moral emosi dan perasaan seperti simpati atau mempengaruhi pemikiran bahwa manusia sehrusnya diperhatikan dan diperlakukan dengan martabat/ harga dirinya dalam dunia modern.
TEORI KEBENARAN
Dalam perkembangan abad ke 20, teori keadilan mengakui bahwa manusia memiliki hak dasar dan hak istimewa yang penting dalam batas nasional dan kebudayaan. Keadilan menetapkan tingkat minimum dari perilaku yang dapat diterima secara moral/kesopanan. Satu yang kita ketahui bahwa definisi hak dasar merupakan hak milik sendiri yang diutamakan. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa hak intuk berbicara adalah hak dasar yang lebih tinggi dari semua, tetapi yang paling diutamakan tujuan bersama dan…..,contohnya perhatian Negara kepada keselarasan masyrakat atau kosesus moral. Teori moral menyatakan bahwa hak pokok manusia dari dasar untuk pedoman moral seorang manager dalam membuat keputusan yang mempunyai komponen yang layak atau pantas. Lebih tepatnya mereka tidak melanjutkan tindakan yang melanggar hak.
Perkiraan atau dugaan bahwa hak dasar adalah hal yang penting dalam batas nasional dan kebudayaan merupakan dorongan yang mendasari Deklarasi Hak Asasi Manusia, yangmana disahkan oleh seluruh Negara dan diletakan sebaga prinsip dasar yang selalu melekat dengan kebudayaan dalam melakukan kegiatan bisnis. Bunyi Kantian Etika, artikel 1dari deklarasi menyebutkan :
Atikel 1: Semua manusia dilahirkan bebas dan mempunyai hak dan martabat yang sama. Mereka memiliki akal-budi dan kata hati-perasaan dan menjalin hubungan baik dengan sesame dalam dorongan persaudaraan.
Atikel 23 dari deklarasi ini, menyatakan hubungan lansung dengan pekerja, menyebutkan:
-
Setiap orang mempunyai hak untuk bekerja, untuk bebas memilih pekerjaan, untuk bekerja dengan adil dan kondisi yang baik, dan untuk dilindungi terhadap pengangguran.
-
Setiap orang, tidak dengan diskriminasi mempunyai hak memperoleh upah yang sama untuk pekerjaan yang sama.
-
Setiap orang yang bekerja mempunyai hak dalam pemberian upah secara adil dan baik untuk dirinya dan keluarganya dengan adanya nilai martabat /hargadiri manusia dan tambahannya kebutuhan memakai dengan perlindungan sosial.
-
Setiap orang mempunya hak untuk membentuk dan bergabung dalam kumpulan perdagangan untuk perlindungan dari kepentingannya.
Jelasnya, hak untuk “adil dan baik dalam kondisi kerja”, “sam upah sam pekerjaan”, dan pemberian upah dijamin dengan “adanya nilai martabat/hargadiri” ditambahkan dalam artikel 23 menyatakan secara tidak langsung bahwa tidak pantas/layak memperkerjakan anak dibawah umur dan di bayar dengan gaji yang lebih rendah, kebiasaan ini terjadi pada beberapa Negara. Hal ini adalah hak asasi manusia yang melebihi batas Negara.
Ini penting untuk catatan bahwa hak diteruskan menjadi kewajiban. Karena kita mempunyai hak untuk berbicara, kita juga mempunyai kewajiban untuk memperhatikan pembicaraan orang lain. Perkiraan bahwa seseorang mempunyai kewajiban disebutkan dalam artikel 29 dari Deklarasi Hak Asasi Manusia:
Artikel 29: Setiap orang mempunyai kewajiban dalam suatu komonitas yang bebas dan penuh pengembangan dari personalnya adalah tepat
Dalam teori kerangka teori keadilan, seseorang atau lembaga institusi diharuskan untuk menyediakan manfaat dan pelayanan yang menjamin hak pihak lain. Seperti kewajiban yang lebih dari moral agent(moral agent aalah seseorang atau lembaga institusi yang mampu berperilakau baik seperti pemerintah atau perusahaan besar).
Segabai contoh, untuk mengurangi biaya yang tinggi akibat pemborosan pembuangan sampah racun di West, pada akhir tahun 1980 beberapa perusahaan mengirimkan pembuangannya ke bulk untuk neraga afrika, dimana pembuangan sampahnya lebih murah. Pada tahun 1987, 5 kapal eropa membongkar pembuangan racun sammpah yang berbahaya ke Nogeria. Pekerja memakai sandal dan celana pendek membongkar tong untuk $2,50 per hari dan meletakkannya di area tanah pemukiman penduduk. Mereka tidak mengatakan isi tong tersebut. Siapa yang bertanggungjawab melindungi hak pekerja dan penduduk untuk keamanan dalam kasus ini? Menurut teori kebenaran, kewajiban tidak dibebankan pada satu moral agen, tetapi dibebankan pada seluruh moral agen yang melakukan kerusakan atau berkontribusi menimbulkan kerugian pada pekerja dan penduduk. Sehingga kewajigan / tanggungjwab bukan hanya pada pemerintah Nigeria, tetapi juga perushaan multinasional yang membongkar pembuangan racun yang memnebabkan kerugian pada penduduk dan pekerja. Dalam kasus ini, keduanya pemerintah dan perusahaan multinasional rupanya gagal mengakui kewajiban dasar untuk melindungi hak asasi orang lain.
TEORI KEADILAN
Teori ekonomi menfokuskan pada pencapaian yang distribusi yang adil dari barang ekonomi dan pelayanan. Distribusi yang adil mempertimbangkan keadilan dan kejujuran yang patut. Tiadak ada satu teori keadilan dan beberapa teori keadilan yang bertentanganantara satu dengan yang lain dengan cara yang penting. Disini kita hanya focus pada satu bagian teori keadilan yang sangat berpengaruh dn penting dalam implikasi etika. Teori keadilan di oleh filosof John Rawls. Rawls mengatakan bahwa semua barang ekonomi dan pelayanannya harus disalurkan dengan adil /sama kecuali ketika penyalurannya digunakan untuk keuntungan seseorang.
Menurut Rawls, Prinsip yang benar tentang keadilan adalah ketika semua orang sepakat untuk kebebasan dan keadilan dalam suatu situasi. Keadilan dijamin dengan konsep yang Rawls katakana sebagai veil of ignorance. Menurut veil of ignorance, setiap orang membayangkan tidakmtahu akan karakteristik khusus sebagai contoh, ras, jenis kelamin, kepandaian, kewarganegaraan, latarbelakang keluarga dan bakat khusus. Rawls kemudian mengatakan tentang system yang dibuat menurut veil of ignorance. Dalam kondisi ini, seseorang dengan kebulatan suara sepakat dalam dua pokok prinsip keadilan.
Prinsip yang pertama, bahwa masing-masing orang diizinkan memiliki jumlah kebebasan maksimal yang sama sepeti orang lain. Rawls mengatakan bahwa ada kebebasan berpolitik (hak untuk memberikan suara), kebebasan berpendapat dan berkumpul, kebebasan hati nurani dan kebebasan gagasan, kebebasan dan kebenaran untuk memiiki barang pribadi, dan kebebasan dari kesewenang-wenangan penangkapan dan perampasan.
Prinsip yang kedua, bahwa kebebasan dasar yang sama dijamin, yang tidak sama adalah dasar kelayakan sosial- seperti pendapatan/ gaji, disstribusi kesejahteraan, mendapatkan kesempatan- diizinkan hanya jika adanya kenutungan yang berbeda setiap orang. Rawls menyepakati/menerima bahwa ketidaksamaan dapat menjadi adil jika system meproduksinya juga mempunyai keuntungan yang tidaksama setiap orang. Lebih tepatnya, dia merumuskan dan menyebutnya prinsip berbeda, yang menyatakan bahwa ketidaksamaan diadili jika keuntungan mereka pada posisi seseorang yang keuntungannya sedikit. Sebagi contoh, variasi yang bermacam-macam pendapatan dan kesejahteraan dapat menjadi adil jika system pasar dasar yang memproduksi penyaluran yang tidaksama begitu juga keuntungan yang sedikit bagi anggota masyarakat. Satu pernyataan yang dapat dilanjutkan, pasar dasar ekonomi dan pasar bebas, dengan promosi pertumbuhan ekonomi, keuntungan yang sedikit bagi anggota mayarakat. Dalam prinsipnya, ketidaksamaan berpautan dalam system keadilan (dengan kata lain, perkembangan kenaikkan kesejahteraan diciptakan dengan pasar dasr ekonomi dan pasar bebas meningkatkan kapal, peristiwa ini merupakan hal yang paling merugikan).
ETIKA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kemudian apa cara yang terbaik bagi seorang manajer perusahaan multinasional untuk membuat pertimbangan figure etika dalam keputusan bisnis internasional? Bagaimana manajer memutuskan perilaku yang beretika ketika dihadapkan pada keputusan untuk kondisi pekerjaan, hak asasi, korupsi dan polusi lingkungan? Dari tinjauan etika, bagaimana manajer memutuskan kewajiban moral dari kekuatan multinasional? Dalam beberapa kasus, tidak mudah menjawab pertanyaan ini, dari keseluruhan, masalah yang paling menyedihkan timbul karena adanya fakta dilemma yang melekat dan tidak ada kejelasan tindakan yang baik. Meskipun demikian, manajer seharusnya dapat dan mampu melakukan beberapa hal untuk membuat prinsip etika dasar yang melekat dan pokok persoalan etika yang secara rutin disisipkan dalam keputusan bisnis internasional.
Disini focus kita mempelajari tentang lima hal dalam bisnis internasional dan yang harus dilakukan manajer dengan persoalan etika untuk membuat pertimbangan dalam keputusan bisnis. Diantaranya (1) Menggaji dan mempromosikan seseorang dengan sumber dasar pengertian personal etika. (2) Membangun suatu organisasi dibidang kebudayaan yang merupakan tempat bernilai tinggi dalam etika berperilaku (3) Membuat seorang pemimpin bisnis yang tidak hanay pandai berbicara/berpidato tentang etika perilaku, tetapi juga melaksanakannya sesuai dengan yang dikatakan. (4) Meletakan proses pembuatan keputusan dalam tempat yang mengharuskan seseorang untuk mempertimbangkan dimensi etika dari keputusan bisnis dan (5) Mengembangkan moral keberanian.
MENGAJI DAN MEMPROMOSIKAN
Hal itu terlihat nyata bahwa pengusaha harus berusaha/bekerja keras untuk menggaji seseorang dengan perasaan personal etika yang kuat dan tidak menggunakan perilaku yang tidak beretika atau tidak benar. Sama halnya, kamu mengaharapkan bisnis, tidak untuk mempromosikna seseorang, dan mendapatkan dukungan orang lain, yang perilakunnha tidak sesuai dengan standar umum etika yang dapat diterima. Tapi, pada kenyataannya, melakukan hal ini sangat sulit. Bagaimana seseorang tahu bahwa orang yang miskin mempunyai penertian tentang etika pribadi? Dalam masyarakat kita, kita mendorong untuk menembunyikan kekurangan seseorang dari pandangan publik. Pernah seseorang menyadari bahwa kamu tidak etik, mereka tidak akan mempercayaimu dalam waktu yang lama.
Apakah ada beberapa hal dalam bisnis yang dapat dilakukan untuK membuat yakin mereka agar tidak menembunyikan seseorang yang akibatnya menjadi rendah personal etik, beberapa bagiannya memberikan dorongan untuk menyembunyikan seseorang dari public(memang, tidak etiknya seseorang, mungkin akan membohongi dirinya sendiri)? Bisnis dapat memberikan potensi tes psikologi karyawan, untuk mencoba melihat kecenderungan etika mereka dan mereka dapat mengecek dengan pekerja sebelumnya, menegai reputasi seseorang( contohnya, dengan menanyakan surat refensi dan mengatakan kepada seseorang yang bekerja dengan prospektif pekerjaan). Kemudian hal ini akan berpengaruh pada proses pengajian. Mempromosikan seseorang yang memilki etika yang rendah seharusnya tidak terjadi pada perusahaan dimana organisasi yang bernilai kebudayaan membutuhkan perilaku yang beretika dan dimana atasan melakukan hal yang sesuai.
Tidak hanya bisnis yang berusaha keras untuk menidnetifikasi dan menyembunyikan seseorang dengan etika personal yang kuat, tetapi juga pada kepentingan dari prospektif pekerja untuk mengetahui etika suasana dalam organisasi. Siapa yang menginginkan untuk bekerja pada perusahaan Multinaional seperti Enron, yang mengultimatum kebangrutan/pailit karena perilaku yang tidak etik melakukan hubungan rekan kerja yang berisiko dengan menyembunyikan dari public dan ada dalam bagian untuk memperkaya eksekutif yang sama? Tabel 4.1 menjelaskan beberapa pertanyaanyang mungkin ditanyakan pada prospektif pekerja.
ORGANISASI KEBUDAYAAN DAN KEPEMIMPINAN
Untuk membantu perkembangan etika perilaku, pengusaha membutuhkan bangunan organisasi kebudayaan yang mempunyai nilai terhadap etika peilaku. Tiga hal yang penting dalam organisasi kebudayaan yang menekankan etika perilaku. Pertama, pengusaha dengan tegas menjelaskan tentang penekanan etika perilaku. Beberapa perusahaan saat ini melakukannya dengan tindakan code etik, yang merupakan pernyataan formal/resmi prioritas etika bisnis yang melekat. Seringnya, kode etik ditulis dal dokumen yang penting, seperti dalam UN Deklarasi Hak Asasi Manusia, yang mana hal itu menjadi dasar dalam Kantian dan teori hak dasar dari moral filosofi. Yang lain memasukan pernyataan / gagasan etika ke dalam penjelasan dokumen yang nilai dan misi dari bisnis. Sebagai contoh, makanan dan produk konsumen dari multinasional Unilever mempunyai kode etik yang terdiri dari beberapa poin:
Pekerja : Unilever merupakan suatu kesatuan dari berbagai macam ingkungan kerja dimana kepercayaan mutu dan perhatian dan dimana setiap orang merasakan tanggungjawab sebagai bentuk reputasi perusahaan. Kita akan merekrut, memperkerjakan , memepromosikn karyawan pada dasar dari qualifikasi dan kecakapan yang dibutuhkan untuk bekerja. Kita tidak menggunakan beberapa bentuk kekuatan, kewajiban atau pekerja anak. Kita berkomitmen untuk bekerja dengan karyawan untuk mengembangkan dan mempertinggi keahlian dan kecakapan masing-masing individu. Kita juga memperhatikan martabat/ harga diri adri setiap individu dan hak pekerja untuk bebas dalam suatu perkumpulan.Kita akan memelihara komunikasi yang baik antara pekerja dan perusahaan sesuai prosedur informasi dan kosultasi.
Kesatuan Pengusaha : Unilever tidak akan memberikan dan tidak menerima, baik secara langsung maupun tidak langsung, uang suap/sogok atau keuntungan yang tidak benar dalam bisnis atau tambahan keuangan. Tidak ada pekerja yang menawarkan, memberikan, menerima beberapa “pemberian ” atau bayaran dari hal uang uap/sogok tersebut. Beberapa permintaan, atau tawaran dari uang suap ditolak dengan langsung(segera) dan di laporkan kepada manajer. Bidang akuntansi Unilever merekam dan membuat dokumen yang akurat yang menggambarkan dan merefleksikan transaksi. Terbuka dan terekam catatan rekening, dana atau asset akan ditetapkan dan dipelihara.
Hal ini jelas sesuai dengan prinsipnya, bahwa diantara hal yang lain, Unilever tidak akan toleransi memenuhi standar kondisi pekerja, menggunakan tenaga kerja anak-anak serta memebrikan uang suap/sogok dalam beberapa keadaan. Catatan juga merupakan referansi untuk memperhatikan martabat/hargadiri pekerja, pernyataan tersebut merupakan dasar dalam Kantian etika. Prinsip Unilever mengirimkan pesan yang angat jelas tentang etika yang cocok untuk manajemen dan pekerja.
Selama membicarakan nilai dalam kode etik atau beberapa dokumen lain, seorang pemimpin bisnis harus memberikan kehidupan dan arti untuk kata tersebut, dengan penekanan berulang-ulang kepentingan mereka dan kemudian melakukan hal itu. Ini berarti menggunakan setiap kesempatan yang relevan untuk penekanan penting dalam etika bisnis dan membuat suatu keputusan yang tidak hanya bagus dalam hal ekonomi namun juga memperhatikan etika. Beberapa perusahaan sudah melangkah lebih lanjut, pemberian gaji yang tidak tergantung auditor untuk membuat perilaku yang konsisten dengan kode etik mereka. Nike, contohnya, yang melindungi kebebasan auditor untuk penggunaan pemborong dengan perusahaan maju yang lain untuk kode perilaku Nike.
Akhirnya, pembangunan organsasi kebudayaan yang memiliki nilai tinggi terhadap etika perilaku membutuhkan insentif dan sistem penghargaan, termasuk promosi, penghargaan kepada seseorang yang memiliki etika dalam berperilaku dan memberikan sanksi bagi yang tidak melakukannya. Contohnya pada General Elektrik, mantan CEO, Jack Welch mendeskripsikan bagaimana dia memandang perilaku manajer, dan menggolongkannya ke dalam grup yang berbeda. Beberapa perilaku menunjukan nilai yang baik untuk kemajuandan bonus, sedangkan beberapa perilaku yang lain menunjukan nilai yang salah dan sebaliknya. Welch tidak memberikan toleransi kepada pimpinan perusahaan yang tidak melakukan pekerjaan yang sesuai dengan nilai perusahaan.
PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN
Tambahan untuk menetapkan jenis hak untuk kebudayaan dalam suatu organisasi, pengusaha/pebisnis harus dapat memikirkan implikasi etika dari keputusan dalam suatu sistem. Untuk melakukan hal tersebut, mereka membutuhkan pedoman , dan keduanya teori kebenaran dan teori keadilan Rawls dapat membantu menetapkan pedoman. Diluar teori ini, beberapa anggapan etika diusulkan dala praktek yang progresif, untuk menentukan apakah keputusan tersebut beretika/pantas atau tidak. Menurut anggapan ini, bahwa keputusan dapat diterima pada dasar etika jika pengusaha dapat menjwab “iya” untuk masing-masing pertanyaan berikut:
-
Apakah keputusanyang telah saya buat dengan nilai dan standar khusus dapat diterima dalam organisasi lingkungan?(berbicara tentang kode etik atau beberapa pernyataan lain perusahaan )
-
Apakah saya akan membicarakan keputusan komunikasi untuk semua pihak yang berkepentingan dipengaruhi oleh hai ini?sebagai contoh, denagn melihat laporan di koran atau di televise.
-
Akankah seseorang yang mempunyai hubungan personal yang signifikan, seperti anggota keluarga, teman, dan manajer bisnis lain, menyetujui keputusan tersebut?
Yang lain memiliki rekomendasi yang terdiri lima langkah proses untuk memikirkan masalah etika(contohnya etika algorithm). Pada langkah pertama, pengusaha seharusnya mengidentifikasi pengaruh keputusan terhada pihak-pihak yang berkepentingan dan apa caranya. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan merupakan seseorang/individu atau kelompok yang mempunyai kepentingan, tuntutan, atau membantu dalam keuangan suatu perusahaan, pada apa yang dilakukan dan bagaimana melakukan itu dengan baik. Mereka dapat dikelompokan kedalan pihak-pihak yang berkepentingan internal dan pihak-pihak yang berkepentingan eksternal. Pihak-pihak yang berkepentingan internal adalah individu atau kelompok yang bekerja pada perusahaan itu sendiri. Mereka terdiri dari karyawan/pekerja, direktur utama dan pemegang saham. Pihak-pihak yang berkepentingan eksternal adalah semua individu atau kelompok lainnya yang mempunyai beberapa tuntutan pada perusahaan. Khususnya kelompok ini terdiri dari pelanggan, supplier, peminjam, pemerintah, perkumpulan, komunitas local dan masyarakat umum.
Semua pihak-pihak yang berkepentingan memiliki hubungan saling tukar-menukar dengan perusahaan. Masing-masing kelompok pihak yang berkepentingan menyediakan sumber daya yang penting bagi organisasi(kontrobusi).,dan menukar masing-masing untuk mengharapkan kepentingan yang memuaskan (dengan pancingan/rangsangan). Sebagai contoh, pekerja menyediakan karyawan, keahlian, pengetahuan, dan waktu, dan menukarnya dengan pendapatan yang sepadan, pekerjaan yang memuaskan, keamanan bekeerja, kondisi lingkungan kerja yang baik. Pelanggan menyediakan perusahaan dengan pendapatan dan menukarnya dengan kualitas produk/barang yang mewakili nilai uang. Komunitas menyediakan bisnis dengan infrastruktur local dan menukarnya dengan suatu bisnis yang warga neraganya bertanggungjawab dan memiliki asuransi tentang kualitas hidup yang akan di tingkatkan sebagai akibat dari eksistensi perusahaan bisnis.
Pihak yang berkepentingan melakukan analisis jumlah pasti yang dinamakan moral imagination. Ini berarti berdiri dengan sepatu pihak-pihak berkepentingan dan menanyakan bagaimana mengusulkan keputusan yang mungkin berpengaruh bagi pihak berkepentingan. Sebagai contoh, ketika mempertimbangkan pemanfaatan sumber daya oleh pemborong, manajer mungkin membutuhkan permintaan terhadap mereka bagaiman rasanya bekerja dengan kondisis kesehtan yang tidak memenuhi syarat dalam waktu lama.
Langkah kedua, membutuhkan etika keadilan dalam mempertimbangkan keputusan strategi, memberikan tambahan informasi pada langkah awal. Manajer membutuhkan untuk menentukan apakah pertimbangan keputusan akan melanggar hak dasar dari stakehorders. Sebagai contoh, kita mungkin mengusulkan informasi tentang risiko kesehatan dalam tempat kerja merupakan hak dasar pekerja. Sama halnya, hak untuk mengetahui cirri-ciri potensial berbahaya suatu produk merupakan hak dasar bagi konsumen ( beberapa perusahaan tembakau melanggarnya ketika meraka tidak menyatakan kepada konsumen abagaiman risiko merokok pada kesehatan). Manajer juga dapat menanyakan, apakah mereka mengizinkan usulan keputusan strategis jika mereka mereka membuat system sepeti Rawls voi. Contohnya, jika persoalan yang dipertimbangkan adalah apakah penggunaan sumber daya dalam bekerja oleh pemborong dengan biaya rendah dan kondisi lingkungan kerja yang buruk, manajer dapat menanyakan pada mereka akan mengizinkan perilaku tersebut jika mereka mempertimbangkan sesuai voi, dimana mereka sendiri dpat mengultimatum satu untu bekerja kepada pemborong.
Pernyataan diata seharusnya dapat kita jaga dengan berbagai princip moral yang seharusnya tidak dilanggar. Prinsip tersebut dapat dijelaskan pada kode etik suatu perusahaan atau dokumen perusahaan. Sebagai tambahan, tentunya prinsip moral dusetujui oleh masyarakat, misalnya larangan untuk mencuri-seharusnya tidak dilanggar. Pernyataan diatas seharusnya juga dapat dijaga dengan keputusan peraturan denagn pilihan untuk mengusulkan keputusan strategi. Walaupun keuntungan yang lama keputusan peraturan dibuat tanpa paksaan dan tekanan, sehingga tidak ada prinsip moral yang dilanggar, perilaku etika pekerja.
Langkah ketiga, mengharuskan manajer untuk menetapkan moral dengan niat sungguh-sungguh. Itu berarti bisnis harus memutuskan untuk meletakan moral sebagai perhatian utama dari yang lainnya dalam hal dimana hak dasar/pokok stakeholders atau pedoman moral prinsip dilanggar. Dalam hal ini masukan berasal dari manajer utama yang merupakan bagian yang bernilai. Tanpa dorongan yang proaktif dari manajer utama, manajer klas-menengah memelihara kepentingan ekonomi yang lebih kecil pada perusahaan sebelum kepentingan dari stakeholders. Mereka beranggapan demikian, bahwa manajer utama merupakan contoh pendekatan.
Langkah keempat, mengharuskan perusahaan untuk menggunakan perilaku yang beretika. Langkah kelima, menharuskan perusahaan untuk mengaudit keputusannya, meninjauhal itu agar konsisten dengan prinsip etika, seperti yang tercantum pada kodeeti perusahaan. Langkah yang terakhir ini, merupakan hal yang kritis dan sering diabaikan. Tanpa adanya audit keputusan yang lampau, pengusaha bisnis mungkin tidak akan mengetahui jika proses keputusannya bekerja atau jika terjadi perubahan untukmenjamin pemenuhan kode etik perusahaan.
|
PENDEKATAN
|
LEVEL
|
DESKRIPSI
|
HASIL
|
|
Komitmen yang relatif
|
Kemajuan : bertepatan dengan keahlian globalisasi manajer
|
Pemahaman relatif dari dunia yang di kombinasi dengan komitmen untuk membuat nilai dan prinsip dengan keahlian pandangan dunia yang luas
|
Manajer mengasumsikan tanggungjawab untuk perilaku dan keputusan dasar dalam analisis dan pertimbangan.
|
|
Faham Relatif
|
Pengembangan lebih lanjut : sering kali ditemukan pada tingkatan 2 dan 3 globalisasi manajer
|
Pandangan dualistik dicukupkan oleh kesadaran dalam konteks : penetahuan dan nilai relative
|
Pendekatan untuk mengikuti adat setempat, merupakan masalah dasar dalam ketetapan etika
|
|
Faham Dualistik
|
Pengembangan akhir : sering menemukan orang baru dalam global manajer.
|
Mempunyai dua model ketetapan etika. Diasumsikan bahwa adanya penghapusan perbedaan antara hal yang benar dengan yang salah, cara manajer merupakan cara yang benar
|
Pendekatan gaya kerajaan pada perbedaan etika
|
PETUGAS ETIKA
Untuk meyakinkan bahwa perilaku bisnis dalam sikap yamg beretika, beberapa perusahaan saat ini memiliki petugas etika. Disini seseorang bertanggungjawab melatih pekerja untuk memiliki etika dalam berperilaku, memasukan pertimbangan etika ke dalam proses pembuatan keputusan dan patuh pada kode etik perusahaan. Petugas etika mempunyai tanggungjawab mengaudit keputusan untuk meyakinkan mereka agar konsisten dengan kode tersebut. Dalam beberapa bisnis, tanggungjawab untuk memelihara rahasia yang merupakan permintaan pekerja, menginvestigasi keluhan dari pekerja dan yang lain, melaporkan pendapatan dan membuat rekomendasi untuk perubahan.
Sebagai contoh, Teknologi United, sebuah perusahaan multinasional angkasaluar dengan pendapatan yang mencapai lebih dari $28 juta, mempunyai kode etik yang resmi/formal sejak tahun 1990. Sekarang disana ada beberapa 160 pegawai praktek bisnis dengan United Technologies(ini merupakan nama petugas etika perusahaan) yang mempunyai tanggungjawab untuk meyakinkan kode itu diikuti. United Technologies juga menetapkan program ombudperson. Pada tahun 1986 yang meminta pekerja tanpa nama tentang etika bisnis. Program ini telah menerima 56.000 permintaan sejak tahun 1986 dan 8.000 kasus yang telah diselesaikan oleh pemborong.
MORAL KEBERANIAN
Akhirnya, hal yang penting untuk mengakui bahwa pekerja di bisnis internasional mungkin membutuhkan moral keberanian yang signifikan. Moral keberanian memungkinkan manajer untuk menjalankan tugasnya dari keputusan yang menguntungkan, tetapi tidak beretika. Moral keberanian memberikan pekerja kekuatan / dorongan mengatakan tidak untuk keunggulan yang diperintahkan kepadanya untuk meneruskan perilaku yang tidak beretika. Dan moral keberanian memberikan kepada pekerja kesatuan untuk bermasyarat untuk media dan tantangan keras perilaku yang tidak beretika dalam perusahaan. Moral keberanian ini tidak mudah, dimana seseorang akan kehilangan suatu pekerjaannya karena mereka menentang/melawan atasanya dalam perusahaan yang berperilaku tidak etik, dan mengatakannya apa yang terjadi pada media.
Tetapi, perusahaan dapat menguatkan moral keberanian dengan berkomitmen untuk tidak membalas pekerja yang menggunakan moral keberanian, mengatakan tidak kepada atasan atau keluhan sebaliknya terhadap perilaku yang tidak beretika. Sebagai contoh, mempertimbangkan kutipan dalam kode etik Unilever :
Beberapa pelanggaran dari kode etik dilaporkan sesuai dengan prosedur spesifik oleh Joint Sekertaris. Dewan pengurus Unilever tidak akan mengkritik manajemen yang menderita kerugian akibat patuh/taat terhadap prinsip dan kebijaksanaan mandatori dan perintah. Dewan pengurus mengaharapkan pekerja memberikan perhatiannya terhadap atasan/manajer yang melanggar atau dicurigai melanggar prinsip. Ketetapan dibuat untuk pekerja agar dapat melaporkan kepercayaan dan bukan pekerja akan menderita kosenkuensi kerugian yang dia lakukan.
Jelasnya, pernyataan ini memberikan izin kepada pekerja untuk penggunaana keberanian moral. Perusahaan dapat juga membuat hubungan telepn lansung yang cepat, yang membolehkan pekerja mendaftarkan keluhannya dengan persahaan kepada petugas etik.
RINGKASAN DARI LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Semua langkah yang didiskusikan diatas-menggaji dan mempromosikan seseorang atas dasar pertimbangan etika yang lebih dari bentuk metric tradisional, menetapkan etika kebudayaan dalam perbuatan, melembagakan proses pembuatan keputusan, mengangkat petugas etika, dan menciptakan suatu lingkungan dengan fasilitas keberanian moral, dapat membantu meyakinkan ketika membuat keputusan bisnis. Manajer sadar akan implikasi etika dan tidak melanggar ketentuan etika dasar. Pada saat yang sama, hal ini harus diakui bahwa tidak semua dilemma etika dapat diatasi dan diselesaikan dengan jelas. Ada hal yang menjelaskan tentang bisnis internasional yang seharusnya tidak dilakukan dan ada beberapa hal yang seharusnya dilakukan tapi ada juga perilaku manajer yang bermasalah. Dalam hal ini, kewajiban manajer untuk menjadikan situasi yang kompleks dan membuat keseimbangan keputusan yang adil.